Mengkaji Al Qur’an

Setiap kali kami silaturahim ke guru saya di Darul ‘Ulum, Jombang, KH Cholil Dahlan selalu berkata

Le, Al Qur’ane diwoco opo ga?
(Nak, Al Qur’annya dibaca apa tidak??)

Berkali-kali saya silaturahim ke beliau, pesan beliau tetap seperti itu saja. Malah berkata gini

Aku gak meseni opo-opo kecuali al-qur’an wae diwoco song ajeg, sing istiqomah. Ba’da sholat diwoco, insya allah barokah.
(Saya tidak berpesan apa-apa kecuali kalian harus membaca al qur’an dengan istiqomah. Setiap selesai sholat dibaca, insya allah membawa berkah)

Al Qur’an memang wajib “dipegang” oleh orang muslim. Mengamalkannya termasuk rukun iman. Membacanya termasuk ibadah.

Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. (wikipedia)

Al Qur’an berisi tentang ajaran hidup, tuntunan muamalah, fiqih, aqidah, sejarah, dan lain sebagainya. Semuanya ada dalam Al Quran. Al Qur’an harus ditafsirkan dengan baik secara tekstual maupun kontekstual agar tidak ada deviasi dalam memahaminya. Disinilah perbedaan antara menerjemahkan dan menafsirkan.

Menerjemahkan dilakukan hanya sebatas tekstual saja dan belum disertai usaha interpretasi yang lebih jauh (tafsir). Terjemahan ini tidak boleh dianggap sebagai arti sebenarnya. Sebab dalam Al Qur’an terdapat banyak kata kiasan atau arti lainnya yang juga berhubungan dengan sebab turunnya ayat dalam Al Qur’an.

Menafsirkan dilakukan untuk memperoleh makna sejelas-jelasnya dari setiap ayat dalam Al Qur’an. Upaya penafsiran ini dilakukan agar memperoleh pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat dalam Al Quran.

Pemahaman Al Quran yang dangkal akan sangat berbahaya, bahkan dapat menimbulkan penyelewengan terhadap ayat tertentu. Banyak orang yang melakukan hal yang tidak semestinya dengan dasar ayat tertentu, yang justru bukan makna ayat tersebut. Akhirnya malah dapat susah tidak dapat gembira.

Tafsir adalah ilmu yang sensitif mengingat Al Qur’an adalah pegangan bagi orang muslim. Jadi jangan sekali-kali belajar tafsir Al Qur’an sembarangan, karena dikhawatirkan menimbulkan penyimpangan terhadap makna sebenarnya. Jangan belajar tafsir dari buku-buku yang dijual sembarangan di pinggir jalan yang tidak jelas dan kredibel  siapa penulisnya.

Mari belajar mengkaji Al Quran melalui seorang guru, ustadz, kyai yang ahli tafsir. Dibawah ini beberapa kitab terjemah dan tafsir Al Qur’an yang insya allah jelas dan kredibel serta dapat dipertanggung jawabkan.

  1. Qur’an bahasa Sunda oleh KH. Qomaruddien
  2. Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh KH. Bisyri Mustafa Rembang
  3. Al-Qur’an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan
  4. Tafsir Misbah (Indonesia), Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab.
  5. Tafsir Ibnu Katsir
  6. dan masih banyak lagi

Oleh karena itu,

Mari Mengkaji Al Quran.

6 thoughts on “Mengkaji Al Qur’an

  1. assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
    bang, itu kalo misalnya antara tafsir ibn katsir sama tafsir quraish shihab, ada beda2 signifikannya nda ya bang?
    atau malaah ada banyak?

    eniwei ws baru beberapa bulan/waktu lalu menyadari,
    al quran itu nulisnya nda ada pake ‘ain, ya rupanya bang. kan kita umat banyak nulisnya al qur’an ya bang?
    hoheho…

    dan mari menjadi ahlul quran… ^^

Mau Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s