Musibah Negara Ini
Hanya waktu yang dapat membuktikan.
Setelah musibah terjadi, fase saling menyalahkan pasti terjadi.
Inilah resiko menjadi seorang pemimpin, harus berani dan bertanggung jawab. Saya menyesalkan “pemerintah” yang kurang sukses melakukan penataan dan pembenahan sehingga proses perusakan alam oleh manusia menjadi tidak terkendali.
Pemimpin seperti sopir yang bertanggung jawab atas keselamatan penumpangnya. Pemimpin seperti seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarganya.
Pada prinsipnya, pemimpin berada di barisan paling depan dalam membantu ketika rakyat yang dipimpin olehnya mengalami musibah. Bahkan berada di barisan paling depan ketika rakyat yang dipimpinnya berusaha meraih kesejahteraan.
Dan apa yang terjadi di negeri saya yang hebat ini??
Saat musibah terjadi,
beberapa pemimpin kita malah main lempar-lemparan “kotoran”.
beberapa pemimpin kita memanfaatkan kesempatan untuk kampanye pemilu.
beberapa pemimpin kita memang benar-benar membantu sepenuh hati.
beberapa pemimpin tersadarkan untuk memimpin lebih baik lagi.
Saya berdo’a semoga para korban situ gintung yang selamat dapat menguatkan diri dan dapat segera bangkit untuk menata kehidupan kembali. Semoga kita semua dapat menghargai alam dan menghargai sesama manusia. Semoga para korban yang telah tiada diberi tempat yang lebih baik oleh Tuhan. Semoga Tuhan memberikan pemimpin lebih baik untuk kita semua.












ijinkan pertamax mbak!
adakalanya pelajaran harus diberikan dengan cara yang menyakitkan, kalo misalnya dari peristiwa ini kita ndak belajar apapun maka kita benar-benar orang bebal
amien.. untuk doa sampeyan
kLo skg sey byK oRg yg muNa’ gtu..
g tw,,meReka tuLuss atw ga…
tpi..uNtungX diaNtaRa mereKa msH ad yg tuluss…
thaNks visiT my bLog..;)
biasanya gubernur daerah tsb yg bertanggungjawab. eh situ gintung dimana sih ? doooh sejak kuliah,gak sempat baca koran indonesia.
Inilah potret pemimpin Indonesia
astagfirullah…
turut brduka cita atas meninggalnya republik indonesia..
wow, aamiin…
apik bos, postingane sampeyan tepat adanya.. opomaneh pas menyebutkan BEBERAPA
sip, nggak semua pemimpin memang begitu, tapi beberapa saja…
nah, masalahnya 2 BEBERAPA pertama itu yg jumlahnya jauh lebih banyak dari 2 BEBERAPA terakhir… tanya kenapa??